PDIP Surabaya: NU konsisten menjaga Indonesia

Surabaya (ANTARA) - DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya menyatakan Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, selama ini konsisten dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia...

PDIP Surabaya: NU konsisten menjaga Indonesia
Surabaya (ANTARA) - DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya menyatakan Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, selama ini konsisten dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Selamat Hari Lahir Nahdlatul Ulama yang ke-94. Semoga NU terus berjaya, sukses bersama-sama bergotong royong membangun kemandirian umat dan menjaga kebhinnekaan bangsa," ujar Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Adi Sutarwijono, di Surabaya, Jumat.

Baca juga: NU tegaskan peran merekatkan masyarakat

Menurut dia, PDI Perjuangan sangat bangga dengan kiprah NU yang berada di garda terdepan dalam memperjuangkan ekonomi umat serta menjaga Nusantara dari perpecahan. NU tidak pernah ragu menjaga Indonesia menjadi rumah besar bagi seluruh warganya tanpa memandang latar belakang suku, agama maupun etnis.

Dalam sejarahnya, lanjut dia, keterikatan PDI Perjuangan sebagai rumah besar kaum nasionalis dan NU sebagai rumah besar kaum Nahdliyin sudah tidak terpisahkan, bahkan sejak republik ini belum mandiri.

Baca juga: NU dan Muhammadiyah diharapkan kompak demi kepentingan bangsa

"Nasionalisme dan spiritualisme seperti satu keping mata uang yang tak terpisahkan, sebagaimana kolaborasi NU dan PDI Perjuangan yang terjalin baik selama ini," kata Adi yang juga Ketua DPRD Surabaya ini.

Ketika Bung Karno (Presiden pertama RI Soekarno) bertanya ke pendiri NU KH Hasyim Asyari tentang hukum membela negara, kata dia, Kiai Hasyim tanpa sedikit pun keraguan menjawab itu sebagai jihad fisabilillah, hubbul wathon minal iman atau mencintai Tanah Air adalah sebagian daripada iman.

Baca juga: "Omnibus law" akan dibahas dalam Munas NU 2020

"Ketika di awal kemerdekaan saat Indonesia diuji seperti pemberontakan DI/TII, kaum religius santri seperti Nahdlatul Ulama menunjukkan komitmen nasionalisme. Ketika itu, NU membela Pancasila dengan menolak terlibat dalam DI/TII. Bahkan, NU memberi gelar kepada Bung Karno sebagai waliyyul amri dharuri bi as-syaukah (kepala negara bidang kenegaraan dan keagamaan)," ujarnya.

Ia mengatakan pemilih PDI Perjuangan dan jamaah NU sejatinya beririsan karena semuanya adalah umat yang harus terus diperjuangkan kesejahteraan sosial-ekonominya, umat yang harus diperjuangkan agar hidup saling berdampingan dalam keharmonisan.

Baca juga: Said Aqil: NU tak antikonglomerat

Untuk Kota Surabaya, kata dia, kolaborasi di antara PDI Perjuangan dan NU memastikan Surabaya menjadi kota metropolitan kelas dunia yang ramah bagi semua warga, penuh toleransi dalam bingkai NKRI.

"Sekali lagi, selamat harlah NU. PDI Perjuangan Kota Surabaya siap mendukung berbagai upaya NU dalam menjaga persatuan, menyejahterakan umat, dan memajukan kota tercinta," katanya.

Pewarta: Abdul Hakim
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Let's block ads! (Why?)